Senin, 09 Juni 2014



Fikita termenung sendirian di dalam kamarnya, ia bingung mau bilang apa pada ibunya. Gelisah dan khawatir yang ia rasakan. Tanda-tanda itu baru ia ketahui beberapa bulan ini.
“Hidupku kini hanya tinggal sebuah penantian” Gumamnya dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya. Tak sadar tangisannya terdengar oleh ibunya.
“Fi ada apa? Mama mendengar suara tangisan dari kamarmu”, sambil mengetuk pintu kamar Fikita. Fiki kaget saat mendengar ketukan pintu kamarnya.
“Gak ada apa-apa ma, Fiki baik-baik saja ma”, sambil mengusap air matanya dan segera membukakan pintu untuk mamanya.
“Kamu kenapa sayang? Kalau ada masalah cerita sama mama”, ucap sang mama.
“Gak ada apa-apa kok ma, beneran deh”, jawab Fika dengan senyuman manisnya sambil memeluk mamanya.
“Ya sudah, cepat tidur, udah malam besok kan kamu sekolah”, menyuruh Fiki masuk kamar dan tidur.
“OK mamaku tercinta…”
“Good night mam…” ucap Fika.
“Good night too sayang”, sambil memeluk dan mencium kening Fika.
Fikita akhirnya menutup pintu dan masuk ke kamar untuk tidur.
Mentari tersenyum menyambut pagi, berharap ada suatu keajaiban datang. Jam menunjukkan pukul 6.00. Fiki bersiap untuk mandi dan berangkat ke sekolah.
“Fi, sarapan udah siap, cepat turun..”, panggil sang mama.
“Iya ma, sebentar…”, teriak Fiki.
Fiki mulai menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan.
“Menu sarapan pagi ini apa ma?”, tanyanya sambil tersenyum.
“Ini mama masakin Nasi Goreng kesukaaanmu”, jawab mamanya.
Tiba-tiba Fiki memasang muka manja untuk meminta mamanya menyuapinya.
“Ma… boleh gak aku minta suapin?”, pintanya.
“Kok tumben anak mama ini minta suapin, ada apa nih? Kok tiba-tiba anak mama manja gini?”, Tanya sambil tersenyum keheranan.
“Hhmmm… Mama bisa aja, aku kangen sama mama, jadi sekali-sekali minta suapin gak apa-apakan ma?”, dengan menunjukkan sikap manjanya.
Akhirnya sang mama menyuapi Fikita dengan senang hati. Saat beberapa suapan, tiba-tiba sang mama terkejut melihat hidung Fiki mengeluarkan darah.
“Fik, kamu kenapa?”, sang mama panik sambil mengusap darah yang keluar dari hidung Fiki.
“Gak kenapa-kenapa ma, paling-paling cuma mimisan biasa aja”, Ucap Fiki.
Fiki juga bingung harus bilang apa pada mamanya. Ia tidak mau jika sang mama tau tentang penyakitnnya.
“Kita ke dokter aja Fik, sementara ini kamu izin gak masuk sekolah dulu”, bujuknya.
“Aduhh Si mama nih, aku beneran gak kenapa-kenapa ma”, meyakinkan sang mama agar tidak jadi ke dokter.
“Mama khawatir sayang jika kamu kenapa-kenapa”, ucap sang mama dengan rasa khawatir.
“Udah ma, tenang aja, Fiki nih baik-baik saja mamaku tercinta”, katanya sambil tersenyum manis.
“Ma… aku berangkat dulu, ntar telat nih”, mengemasi barangnya dan langsung mencium pipi sang mama.
“Hati-hati Fik..” Teriak sang mama.
Jam, menit, detik, berlalu. Saat di sekolah Fiki hanya melamun terus membayangkan jika sang mama mengetahui tentang penyakitnya ini. Sang mama pasti sedih. Fiki gak mau membuat sang mama sedih. Tak terasa air matanya menetes ketika membayangkan semua itu jika terjadi.
“Aku harus bagaimana, dan apa yang harus aku lakukan”, gumamnya dalam hati. Saat pulang sekolah, karena jarak rumah dan sekolahnya tidak begitu jauh, Fiki berjalan kaki. Tiba-tiba kepalanya pusing dan kakinya sulit tuk berjalan. Ia menahan rasa sakit itu sampai ke rumah. Saat di depan pintu, ia langsung pingsan. Sang mama yang berada di ruang tamu terkejut mendengar sesuatu yang aneh. Akhirnya sang mama membuka pintu dan terkejut melihat Fiki sudah tergeletak pingsan di depan pintu. Rasa khawatir yang dirasakan sang mama. Sang mama membawa Fiki ke kamar dan berusaha untuk menyadarkannya. Tak lama kemudian Fiki akhirnya sadar.
“Fik, kamu kenapa?”, Tanya sang mama dengan kepanikan.
“Gak kenapa-kenapa ma, Cuma kecapekan dan kepala Fiki pusing gara-gara tadi di sekolah banyak kegiatan”, jawabnya agak terlihat gugup. Fiki terpaksa berbohong pada mamanya karena dia tidak ingin jika mamanya mengetahui penyakitnya.
”Bener kamu gak apa-apa? Mama takut terjadi sesuatu dengan kamu sayang”, sang mama terlihat sangat khawatir.
“Aduhh… Mama nih gak percaya sama anak sendiri, aku ini baik-baik aja ma”, ucap Fiki meyakinkan mamanya.
“Ya sudah, cepat kamu ganti baju dan makan, mama akan carikan obat sakit kepala dulu”, kata sang mama sambil mengelus kepala Fiki.
“Iya mamaku tercinta”, jawabnya dengan senyuman manis.
Suatu hari, Fiki pergi ke dokter tanpa sepengetahuan sang mama. Fiki terkejut dan langsung lemas saat dokter mengatakan jika Kanker Darah yang dideritanya sudah mencapai stadium akhir, dan itu artinya hidupnya kini tidak akan lama lagi. Saat ini dia hanya bisa mengharapkan suatu keajaiban yang terjadi. Sejak hari itu, Fiki sering termenung dan lebih sering diam menyendiri. Sang mama khawatir dan heran dengan sikap Fiki seperti itu. Sang mama mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan Fiki.
“Akhir-akhir ini kamu sering terlihat sedih dan menyendiri sayang, kenapa?”, kata sang mama dengan lemah lembut.
Fiki hanya diam dan sedikit tersenyum. Suatu jawaban yang misterius bagi sang mama.
“Apakah kamu sakit sayang? Wajah kamu terlihat pucat sekali, kita pergi ke dokter ya?” mencoba membujuknya.
Fiki hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mamanya bingung harus berbuat apa.
Kamar Fiki sejenak terdengar hening. Fiki dan Mamanya hanya saling memandang.
“Ma…!!!”, panggil Fiki.
“Iya sayang, ada apa?”, Tanya sang mama dengan membelai rambut Fiki.
“Mungkin hari ini adalah hari terakhirku melihat Mama”, ucapnya dengan tetesan air mata.
Mamanya bingung kenapa Fiki berbicara seperti itu.
“Sayang, kenapa kamu ngomong begitu?”, sambil mengusap air mata putrinya.
Fiki tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, hanya sebuah tangisan dan air mata yang bisa ia berikan pada sang mama.
Pada saat itu juga, tiba-tiba hidung Fiki mengeluarkann darah kembali. Seperti halnya saat makan pagi beberapa hari yang lalu.
“Ini Ma yang membuatku selama ini diam dan terus diam”, tangis Fiki sambil memeluk sang mama.
Saat Fiki berbicara seperti itu, tak sadar tetesan air mata menetes.
“Sayang, kenapa kamu gak cerita sama mama? Mama ini sayang banget sama kamu”, sang mama tak dapat menghentikan air mata yang menetes.
“Maafkan aku ma, selama ini Fiki gak jujur ke mama, Fiki menutupi semua ini karena Fiki tak ingin melihat mama sedih seperti ini”, ujar Fiki.
Sang mama langsung memeluk putrinya.
“Ma…!!!”, panggil Fiki.
“Iya sayang…”, jawab sang mama.
“Selamat Hari Ibu ma…”, ucap Fika penuh dengan tetesan air mata.
Mamanya tak kuasa menahan tangisan karena terharu melihat putrinya, ia mengucapkan semua itu dalam keadaan seperti ini.
“Terima kasih sayang, mama sangat sayang kamu Fik, melebihi rasa sayang mama pada diri mama sendiri”, jawab sang mama.
“Maafkan aku ma, Fiki tidak bisa memberi kado terindah buat mama, malah member kado pahit dan tangisan seperti ini”, ucap Fiki dengan rasa menyesal.
“Bagi mama, bisa memeluk kamu adalah kado terindah buat mama”, sang mama tak kuasa menahan tangisnya.
Fiki hanya membalasnya dengan tangisan dan senyuman kecil.
“Mama hanya minta kamu selalu ada di samping mama”, pintanya kepada putrinya.
“Iya ma, Ma, aku boleh tidur di pangkuan mama?”, pinta Fiki kepada sang mama.
Mamanya duduk dan membiarkan putrinya berbaring di atas pangkuannya.
“Fiki merasa nyaman ada di dekat mama”, ucapnya dengan tatapan mata yang berlinangan air mata.
“Mama juga senang sayang, mama sangat mencintai Fiki”, membelai rambut putrinya dengan meneteskan air mata.
Hanya sebuah keajaiban yang mereka harapkan sekarang.
Beberapa detik terdiam, mata Fiki mulai perlahan tuk menatap dunia, tapi dia masih sempat untuk mengucapkan sebuah kalimat “Aku Sayang Mama dan Akan Selalu Sayang Mama”. Sang mama histeris melihat putrinya mengucapkan kalimat terakhirnya dan menutup mata untuk selama-lamanya. Tetesan air mata sang mama menetes di pipi Fikita.
Sebuah kado terindah dan terakhir bagi Fiki bisa tertidur untuk selamanya di pangkuan sang mama. Rasa sayang Fiki akan selalu ada walau kini raganya tak bisa bersama lagi dengan sang mama. Bagi sang mama, rasa Cinta dan Sayang pada Fiki akan selalu ada sampai kapanpun.
Kado terakhir yang bisa diberikan Fiki untuk sang mama adalah sebuah kata Sayang yang selalu abadi dalam hatinya.
Kata terakhir yang akan selalu teringat dan terkenang abadi untuk selamanya dari Fikita untuk sang mama adalah “Aku Sayang Mama dan Akan Selalu Sayang Mama”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar